Kamis, 12 Desember 2013

PENGENDALIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN RABAT BETON

Proses tahapan perencanaan pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Kabupaten Melawi untuk Tahun Anggaran 2014 saat ini hampir separuh kecamatan telah melaksanakan Musyawarah Antar Desa (MAD) Prioritas Usulan. Dari hasil perankingan tersebut terlihat bahwa di beberapa kecamatan usulan masyarakat berupa kegiatan jalan rabat beton masih menjadi primadona. Fenomena ini tentu perlu mendapat perhatian yang seksama dari para pendamping masyarakat khususnya yang berlatar belakang teknik sipil, mengingat banyak kasus pelaksanaan pekerjaan jalan rabat beton yang dikerjakan tidak sesuai dengan kaidah teknik dan terkesan asal-asalan.

Foto-foto di bawah ini menunjukan betapa pekerjaan jalan rabat beton yang dikerjakan tidak sesuai dengan kaidah teknik berdampak pada kerusakan yang parah dan sangat memprihatinkan. Kerusakan-kerusakan yang tergambar dalam foto ini terjadi hanya beberapa minggu saja setelah dilakukan pengecoran.



Dari hasil pengamatan dan diskusi dengan pelaksana pekerjaan di lapangan, kerusakan-kerusakan tersebut terjadi karena beberapa faktor. Faktor pertama yakni komposisi campuran antara semen, pasir dan kerikil yang tidak proporsional. Pada banyak kasus, komponen campuran semen tidak sesuai dengan rencana. Penghematan semen pada pengadukan campuran beton akan tampak pada hasil pengecoran yang terlihat tidak ada ikatan antara pasir dan batu sehingga beton mudah pecah. Komponen lain yang biasa dihemat yakni batu pecah (kerikil) karena pada umumnya harga lebih tinggi dari harga pasir. Penghematan penggunaan batu pecah (kerikil) ini berbanding terbalik dengan penggunaan pasir yang justru lebih banyak dari kerikil.
Faktor kedua kerusakan jalan rabat beton yang biasa terjadi di lapangan yakni komponen pasir dan batu pecah (kerikil) yang kotor bercampur tanah (lumpur). Kandungan tanah (lumpur) pada pasir dan batu yang jauh di atas ambang batas ini tentu saja sangat berpengaruh pada kuat tekan beton sehigga tidak aneh bila di lapangan sering ditemukan kasus hanya beberapa hari saja jalan rabat beton baru dicor tetapi sudah rusak.

Faktor ketiga yang juga sering ditemukan di lapangan yakni pasir alas (pasir urug) yang tidak dihampar sebelum dilakukan pengecoran beton. Tidak adanya pasir alas berdampak pada bercampurnya tanah dasar dengan beton yang baru dicor sehingga berdampak pada kualitas (kuat tekan) beton tersebut.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah proses pengadukan (mixing) beton yang tidak tepat. Pada beberapa kasus, beton yang diaduk belum tercampur dengan baik (masak) tetapi sudah dicor sehingga campuran semen tidak merata pada komponen pasir dan batu pecah.


Selain faktor-faktor di atas, faktor penting lainnya yakni ketebalan beton yang dicor. Di beberapa tempat sering terjadi ketebalan beton yang dicor tidak sesuai dengan rencana sehingga beton mudah untuk pecah.


Upaya yang bisa dilakukan ke depan agar tidak terjadi lagi jalan rabat beton dengan kualitas yang tidak baik yakni dengan pengendalian yang sebaik mungkin baik oleh unsur masyarakat maupun para pendamping masyarakat (fasilitator). Pengendalian yang sangat penting yakni melakukan pengawasan pada saat persiapan material berupa semen, pasir, kerikil dan air apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan atau tidak. Pengendalian lain yakni pengawasan pada saat pengadukan beton, apakah komposisi komponen beton sudah sesuai dengan rencana campurannya atau belum. Pengadukan juga perlu dikontrol masak (merata) tidaknya campuran agar ikatan antar komponen benar-benar terjadi. Pengendalian ketebalan beton juga sangat perlu untuk dilakukan agar ketebalan beton yang dicor sesuai dengan rencana.


Sesuai dengan harapan program, pengendalian kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan berupaya untuk melibatkan masyarakat secara aktif dengan konsep pengendalian berbasis masyarakat (Community Base Monitoring). Konsep ini akan berjalan dengan baik bila masyarakat ikut peduli dengan pembangunan di desanya dan ini bisa diupayakan dengan pendampingan yang intensif dari para fasilitator di lapangan untuk memberikan penguatan kepada masyarakat yang didampinginya. @wry

Tidak ada komentar:

Posting Komentar